tulus, bersih dari semua kepentingan dan hawa nafsu, baik dalam
ucapan maupun perbuatan kita. Semuanya hanya untuk Allah dan mengharap
ridha-Nya, tidak mengharapkan imbalan dan pujian dari manusia,
melainkan beribadah itu semata-mata hanya untuk Allah.
Ketika kita memahami rasa keikhlasan semata-mata hanya untuk Allah,
dan berusaha untuk memerangi hawa nafsu dan tipu daya syetan yang
selalu ingin memasukkkan benih-benih kesombongan, sifat riya' dan ujub
dalam diri kita dan berusaha untuk menggoda iman dan menghancurkan
benteng keimanan kita.
Apa yang harus kita perbuat untuk Allah, yaitu yang pertama kita harus
berbuat ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Sebagaimana Rasulullah
saw telah menjelaskan bahwa keikhlasan dalam melakukan pekerjaan dan
pekerjaan itu akan bernilai ibadah, jika kita selalu menghubungkan
pekerjaan itu kepada Allah dan perlu di ingat, bahwa semua perkerjaan
itu tergantung pada niat.
Sesungguhnya semua kerja tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya
bagi tiap orang apa yang di niatkan. Siapa yang hijrahnya kepada Allah
dan Rasul. Maka hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul dan
siapa yang hijrahnya kepada dunia dan perempuan, maka hijrahnya itu
akan sampai kepada apa yang ditujunya. Oleh karena itu Allah tidak
akan menerima ibadah seseorang meskipun banyak dan benar, tetapi tidak
ikhlas karena Allah.
Ikhlaslah dalam beribadah kepada Allah, walaupun beribadah itu sedikit
sekali, tetapi berlanjut terus menerus. Kemudian apa yang telah kita
usahakan itu sesuai dengan syariat dan apa yang harus kita perhatikan
seperti yang tercantum dibawah ini.
1. Hendaklah yang menjadi tujuan utama kita dalam beribadah itu demi
mengharap ridha Allah swt, dan mengeluarkan manusia dari kegelapan ke
dalam cahaya iman yang suci, agar mereka mengabdikan diri kepada Allah
dengan benar. Ini adalah suatu tanggung jawab yang berat dan sebuah
kepentingan yang besar.
2. Kita harus mengevaluasi semua perkataan dan perbuatan apakah telah
sesuai dengan apa yang kita yakini, karena apakah perkataan dan kita
tidak sesuai dengan perbuatan kita dan apakah perbuatan dan perkataan
kita mengandung unsur kesombongan, ujub dan riya'.
Sebab kerusakan yang ditimbulkan rasa sombong itu sangat besar. Oleh
karena itu kita harus berusaha untuk menghindari sifat yang dapat
merusak diri kita yang dapat menyebabkan diri kita dikucilkan dan
Allah akan murka kepada kita. Rasulullah saw, telah mengingatkan
kepada kita dengan sabdanya : "Tidak masuk surga siapapun yang dalam
hatinya ada rasa sombong, meskipun seberat zarah."
Salah satu dari sifat sombong adalah melarang orang memetik manfaat
ilmu, menerima kebenaran dan mematuhinya. Oleh karena itu berbuat
ikhlas dan menerima segala keadaan adalah lebih baik di hadapan Allah
dan Dia akan memberikan mahkota yang agung dan memberikan kemuliaan.
0 komentar:
Posting Komentar